Ilmu dalam Perspektif Tazkiyatun Nufus
Oleh: Ichwan Muttaqin
Dalam kitab Tazkiyatun Nufus yang di tulis oleh Dr. Ahmad Farid menempatkan ilmu sebagai fondasi utama dalam proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Ilmu tidak sekadar pengetahuan teoritis, tetapi merupakan cahaya yang membimbing hati menuju Allah. Ia menegaskan bahwa ilmu yang benar adalah ilmu yang berpengaruh terhadap hati dan amal. Pernyataan yang dinukil oleh Dr. Ahmad Farid tersebut merujuk pada prinsip fundamental dalam menuntut ilmu menurut pandangan para ulama salaf, yang menekankan bahwa hakikat ilmu bukanlah sekadar hafalan atau banyaknya riwayat (hadits/informasi), melainkan sejauh mana ilmu tersebut menghasilkan rasa takut (khasyyah) dan ketaatan kepada Allah SWT.
A. Semakin Berilmu semakin takut kepada Allah
Di antara penegasan penting yang disebutkan adalah bahwa hakikat ilmu bukan terletak pada banyaknya informasi, tetapi pada pengaruhnya terhadap rasa takut kepada Allah. Dalam kitab tersebut disebutkan:
“لَيْسَ الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ، وَلَكِنَّ الْعِلْمَ الْخَشْيَةُ”
Artinya: Ilmu bukanlah dengan banyaknya riwayat, tetapi ilmu adalah rasa takut kepada Allah.
Hal ini selaras dengan firman Allah QS Faatir ayat 28:
“إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ”
(QS. فاطر: 28)
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang yang berilmu)”
Ayat ini menunjukkan bahwa ciri utama ulama sejati adalah khasy-yah, bukan sekadar keluasan pengetahuan.
B. Ilmu Alat Indikator Hati
Selanjutnya, Dr. Ahmad Farid menjelaskan bahwa ilmu berperan penting dalam mengenali penyakit hati. Tanpa ilmu, seseorang tidak mampu membedakan antara keikhlasan dan riya’, antara tawadhu’ dan kesombongan. Dalam pembahasan tentang hati, beliau menekankan pentingnya perhatian terhadap kondisi batin, sebagaimana disebutkan:
“وَصَلَاحُ الْقَلْبِ أَصْلُ صَلَاحِ الْعَبْدِ، وَفَسَادُهُ أَصْلُ فَسَادِهِ”
Artinya: Baiknya hati adalah pokok kebaikan seorang hamba, dan rusaknya hati adalah pokok kerusakannya.
Ini diperkuat oleh hadis Nabi ﷺ: “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
C. Ilmu Bisa menjadi Musibah
Dr. Ahmad Farid juga membedakan antara ilmu yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat. Ia menjelaskan bahwa ilmu yang tidak diamalkan atau tidak mendekatkan kepada Allah justru menjadi bencana bagi pemiliknya. Dalam kitabnya terdapat peringatan:
“كُلُّ عِلْمٍ لَا يُقَرِّبُكَ إِلَى اللَّهِ فَهُوَ عَلَيْكَ لَا لَكَ”
Artinya: “Setiap ilmu yang tidak mendekatkanmu kepada Allah, maka ia adalah musibah bagimu.”
Hal ini sesuai dengan doa Rasulullah ﷺ melalui yang di riwayatkan Imam Muslim
“اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ”
D. Adab dalam Berilmu
Selain itu, beliau sangat menekankan adab dalam menuntut ilmu. Keikhlasan merupakan syarat utama agar ilmu menjadi berkah. Tanpa keikhlasan, ilmu dapat menjadi sarana kesombongan. Dalam hal ini disebutkan:
“وَلَا يَنْفَعُ الْعِلْمُ إِلَّا مَعَ الْإِخْلَاصِ وَالْعَمَلِ”
Artinya: Ilmu tidak akan bermanfaat kecuali dengan keikhlasan dan pengamalan.
Hal ini diperkuat sebagaimana dalam kitab At Targib wat Tarhib tertulis sebuah hadits Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan Abu Dawud dan Ibnu Majah
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًامِمَّايُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ تَعَالَى يَتَعَلَّمَهُ اِلَّا لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًامِنَ الدُّنْيَالَمْ يَجِدْعَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِىْ رِيْحَهَا.
“Barang siapa belajar suatu ilmu untuk mencari ridha Allah (ternyata) tidak mempelajari ilmu itu kecuali supaya bisa mendapatkan harta benda maka orang itu tidak akan mendapatkan bau surga di hari kiamat.“
Dengan demikian, dalam Tazkiyatun Nufus, ilmu dipandang sebagai sarana integratif antara iman, amal, dan akhlak. Ilmu harus melahirkan amal, dan amal harus dilandasi ilmu. Inilah konsep keseimbangan yang menjadi inti dari penyucian jiwa.
Simpulnya, Konsep ilmu menurut Dr. Ahmad Farid dalam Tazkiyatun Nufus bersifat holistik. Ilmu bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga proses spiritual yang mengarah pada penyucian hati. Ilmu yang sejati adalah ilmu yang melahirkan rasa takut kepada Allah, memperbaiki akhlak, dan mendorong amal saleh. Dengan demikian, ilmu menjadi jalan utama menuju kebersihan jiwa dan kedekatan dengan Allah.
