Fiqih Islam adalah salah satu cabang ilmu dalam Islam yang membahas hukum-hukum syariat yang mengatur kehidupan manusia berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, dan Qiyas. Tujuan utama disyariatkannya fiqih Islam adalah untuk memberikan pedoman hidup yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT, menjaga ketertiban dalam masyarakat, serta mewujudkan kemaslahatan bagi umat manusia.

Tujuan Disyariatkannya Fiqih Islam

1. Menegakkan Kemaslahatan Umat (Tahsinu al-Mashalih)

Fiqih Islam bertujuan untuk memberikan kemudahan dan kemaslahatan bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan. Hukum-hukum fiqih dibuat bukan untuk membebani, melainkan untuk mendatangkan manfaat dan menghindarkan mudarat. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)

2. Menjaga Lima Prinsip Pokok dalam Maqashid Syariah

Dalam ilmu ushul fiqih, terdapat lima prinsip utama (dharuriyyat al-khamsah) yang menjadi tujuan utama hukum Islam, yaitu:

  • Menjaga agama (Hifzh ad-Din): Syariat mengatur kewajiban ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji untuk memperkokoh hubungan manusia dengan Allah.
  • Menjaga jiwa (Hifzh an-Nafs): Islam melarang pembunuhan, mengatur hukum qisas, dan mengajarkan konsep kesehatan untuk menjaga kehidupan manusia.
  • Menjaga akal (Hifzh al-‘Aql): Larangan terhadap khamr dan narkotika bertujuan untuk menjaga akal manusia dari hal-hal yang merusaknya.
  • Menjaga keturunan (Hifzh an-Nasl): Islam mensyariatkan pernikahan dan melarang zina serta praktik yang merusak keturunan.
  • Menjaga harta (Hifzh al-Mal): Hukum tentang transaksi ekonomi, larangan riba, serta aturan waris bertujuan untuk menjaga stabilitas ekonomi umat.

3. Mewujudkan Keadilan dalam Masyarakat

Fiqih Islam mengatur hubungan antara individu dalam masyarakat agar tercipta keadilan. Konsep hukum Islam seperti muamalah, pidana, dan jinayah bertujuan untuk memberikan hak kepada yang berhak serta memberikan sanksi kepada pelanggar hukum.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan serta memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.” (QS. An-Nahl: 90)

4. Membentuk Akhlak dan Moral yang Baik

Hukum-hukum fiqih bertujuan membentuk akhlak individu agar menjadi pribadi yang bertakwa dan berperilaku baik dalam kehidupan sosial. Misalnya, aturan tentang muamalah mengajarkan prinsip kejujuran dalam berbisnis dan bekerja.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

5. Memberikan Kemudahan dalam Beribadah (Rukhshah)

Islam bukanlah agama yang menyulitkan, tetapi memberikan kemudahan dalam kondisi tertentu. Contohnya, keringanan dalam berpuasa bagi orang sakit dan musafir, serta kebolehan shalat jama’ dan qashar dalam perjalanan.

Allah berfirman:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Kesimpulan

Fiqih Islam disyariatkan untuk memberikan pedoman hidup yang membawa manfaat dan mencegah kemudaratan bagi manusia. Tujuan utamanya adalah menjaga kemaslahatan umat, menegakkan keadilan, serta memberikan kemudahan dalam menjalankan syariat Islam. Dengan memahami tujuan-tujuan ini, umat Islam dapat menjalankan ajaran agama dengan lebih baik dan kontekstual sesuai dengan keadaan zaman.

Referensi

  1. Al-Ghazali, Abu Hamid. Al-Mustashfa min ‘Ilm al-Usul.
  2. Al-Syatibi, Abu Ishaq. Al-Muwafaqat fi Usul al-Syari’ah.
  3. Wahbah Zuhaili. Ushul Fiqh al-Islami.
  4. Muhammad Abu Zahrah. Ushul al-Fiqh.
  5. Qur’an dan Hadis.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *