Taqwa Pasca Ramadhan: Membangun Ibadah dan Muamalah yang Jujur Menuju Keberkahan Hidup.

Oleh: Dr. (cand). Ichwan Muttaqin, M.E.Sy.

(Disampaikan Pada Khutbah Iedul Fitri 1447 H di Lapangan Masjid Al Ikhlas Jl. Sumbawa Tegal Alur Jakarta Barat)


الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا.
من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.
اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.


Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)


Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama ibadah Ramadhan adalah melahirkan manusia yang bertakwa. Selama sebulan penuh kita dilatih menahan diri, mengekang hawa nafsu, menjaga lisan, memperbanyak ibadah, serta memperkuat kepedulian sosial melalui zakat, infak, dan sedekah.


Hari ini kita merayakan Idul Fitri, hari kembali berbuka, kembali beraktifitas muamalah di siang hari yang di mana ketika Ramadhan hal tersebut dilarang kini telah di halalkan kembali. Namun, pertanyaannya adalah: apakah nilai takwa yang kita bangun selama Ramadhan akan terus kita jaga setelah Ramadhan berlalu?


Hadirin yang dimuliakan Allah,
Taqwa bukan hanya terlihat dalam ibadah ritual, seperti shalat, puasa, dan dzikir. Takwa juga harus tercermin dalam muamalah, yaitu dalam cara kita berinteraksi dengan sesama manusia, terutama dalam urusan muamalah seperti memiliki integritas pribadi yang bernilai, ber akhlak hingga mencerminkan taqwa dalm aspek seperti aspek ekonomi, pekerjaan, hingga transaksi kehidupan sehari-hari.

Satu Hal yang diajarkan selama Ramadhan adalah aspek kejujuran. Kejujuran dalam ibadah di Bulan Ramadhan hubungannya antara makhluq dengan Kholiq seakan segala aktivitas di monitor langsung oleh Allah SWT. Shaum adalah instrumen transformatif yang membangun struktur moral individu. Dalam konteks muamalah, Shaum berfungsi sebagai fondasi etika yang mengarahkan perilaku manusia agar tidak hanya mengejar keuntungan duniawi semata, tetapi juga keberkahan dan keadilan sosial harus di kedepankan.

A. Kejujuran Dalam Ibadah

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Kejujuran dalam ibadah berarti kesesuaian antara apa yang tampak di lahiriah dengan apa yang ada di dalam batin. Pasca Ramadhan, tantangan terberat adalah menjaga kualitas ibadah agar tidak terjebak dalam formalitas atau sifat riya (ingin dipuji).Ibadah yang jujur didasari oleh keikhlasan total hanya kepada Allah SWT.

Allah berfirman dalam QS. Al-Bayyinah Ayat 5 yang artinya “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” dalam tafsif Al Wajiz Syaikhul Islam Wahbah Zuhaili mengungkapkan berkaitan ayat di atas adalah “Keikhlasan dalam beribadah dengan memurnikan niat demi mencari rida Allah dan menjauhkan diri dari kemusyrikan adalah salah satu syarat diterimanya ibadah“. Maka faktor utama ibadah di terima adalah dengan kejujuran sesungguh-sunguhnya hanya meluruzkam niat, memurnikah tauhid kepada Allah SWT dan meninggalkan syirik serta memegang teguh jujur secara sunah dalam praktik atau kaifiyat ibadah yang lurus.

Dalam sebuah Hadits Shohih, Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya niat sebagai ruh dari kejujuran ibadah:

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya…” (HR. Bukhari & Muslim).

Jujur dalam ibadah berarti kita tetap mendirikan shalat, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah di bulan Syawal dan seterusnya dengan semangat yang sama seperti saat Ramadhan, karena kita menyadari bahwa Tuhan yang kita sembah di bulan Ramadhan adalah Tuhan yang sama di bulan-bulan lainnya.

B. Kejujuran Muamalah

Hadirin yang dimuliakan Allah

Ketaqwaan tidak hanya berhenti di atas sajadah. Ujian ketaqwaan yang sesungguhnya justru terjadi di pasar, di kantor, dan dalam interaksi sosial. Muamalah yang jujur adalah manifestasi dari puasa yang berhasil menundukkan hawa nafsu dari keserakahan.

Seorang Muslim yang bertaqwa akan menjauhi segala bentuk penipuan, manipulasi, dan korupsi. Allah SWT berfirman mengenai pentingnya kejujuran dalam timbangan dan transaksi:

“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. Al-Isra: 35)

Rasulullah SAW juga memberikan standar moral yang tinggi bagi pelaku muamalah:

“Siapa yang menipu kami, maka dia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Muslim).

Kejujuran muamalah menciptakan rasa aman di tengah masyarakat. Ketika seseorang jujur dalam berjanji dan bertransaksi, ia sebenarnya sedang mendakwahkan Islam melalui akhlaknya, yang merupakan buah nyata dari ketaqwaannya.

C. Keberkahan Buah dari Ketaqwaan

Hadirin yang dimuliakan Allah

Keberkahan (Barakah) bukanlah melulu soal jumlah materi yang melimpah, melainkan bertambahnya kebaikan (ziyadatul khair) dalam setiap aspek kehidupan. Hidup yang berkah adalah hidup yang tenang, berkecukupan secara hati, dan bermanfaat bagi sesama.

Keberkahan adalah janji Allah bagi mereka yang mampu memadukan iman dan taqwa secara jujur:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…” (QS. Al-A’raf: 96)

Orang yang menjaga kejujuran ibadah dan muamalah pasca Ramadhan akan merasakan kemudahan dalam urusannya. Rasulullah SAW berserabda:

“Hendaklah kalian jujur, karena kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu menunjukkan ke surga.” (HR. Bukhari & Muslim).

Simpulnya, Ketaqwaan pasca Ramadhan adalah sebuah pembuktian. Dengan membangun kejujuran ibadah yang ikhlas dan kejujuran muamalah yang berintegritas, seorang Muslim tidak hanya menjaga api spiritualitasnya tetap menyala, tetapi juga membuka pintu keberkahan hidup yang hakiki. Ramadhan mungkin telah berlalu, namun nilai-nilainya harus tetap menetap dalam setiap detak jantung dan langkah kaki kita.

Semoga Allah menerima ibadah Ramadhan kita, menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertakwa, serta memberkahi kehidupan kita, keluarga kita, dan masyarakat kita.

اللهم تقبل منا صيامنا وقيامنا وزكاتنا، واجعلنا من عبادك المتقين

عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون.

By admin