Paradoks Puasa dan Budaya Konsumerisme
Oleh: Ichwan Muttaqin

Ramadhan seringkali hadir dengan wajah ganda. Di satu sisi, ia adalah momentum spiritual untuk menahan diri; di sisi lain, ia berubah menjadi festival konsumsi yang masif. Fenomena ini menciptakan sebuah paradoks: bulan yang diperintahkan untuk menahan nafsu justru sering kali menjadi bulan di mana keranjang belanja paling penuh.

sejatinya Ramadhan adalah bulan pendidikan jiwa. Ia bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, tetapi proses pembentukan karakter spiritual dan sosial. Namun dalam realitas kontemporer, puasa seringkali justru beriringan dengan lonjakan konsumsi. Di sinilah muncul paradoks: ibadah yang dimaksudkan untuk mengendalikan nafsu justru berlangsung di tengah budaya konsumtif yang kian menguat.

Pendekatan Al Quran dan Assunah

Firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 bahwa kewajiban puasa bertujuan agar manusia mencapai derajat la’allakum tattaqunn yakni menjadi pribadi yang bertakwa. Taqwa bukan hanya kesalehan ritual, tetapi kesadaran diri untuk mengendalikan hawa nafsu dan menjaga keseimbangan hidup (self-regulation). Prinsip pengendalian bukan sekadar nasihat gizi, melainkan etika konsumsi. Islam tidak melarang menikmati rezeki, tetapi melarang israf (berlebihan), ditegaskan pula dalam QS. Al-A’raf ayat 31 yang artinya “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” Imam Ibnu Katsir dalam menjelaskan ayat ini bahwasannya perkara makanan dan minuman apa saja boleh untuk kita konsumsi (yang halal) namun ada dua sifat yang tidak boleh menyertainya yakni sifat sombong dan berlebihan.

Lebih jauh lagi, dalam QS. Al-Furqan ayat 67 Allah SWT menggambarkan ciri hamba Allah yang sejati yakni “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” Ayat ini menegaskan prinsip moderasi (wasathiyah). Konsumsi dalam Islam harus proporsional, tidak boros dan tidak pelit. Puasa, sejatinya, menjadi madrasah untuk menanamkan nilai ini.

Dalam sebuah riwayat di jelasakan pada hadits:

الْمِقْدَامَ بن معدي كرب الكندي قال سمعت رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يقول ما مَلأَ بن آدَمَ وِعَاءً شَرًّا من بَطْنٍ حَسْبُ بن آدَمَ أُكُلاَتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فان كان لاَ مَحَالَةَ فَثُلُثُ طَعَامٍ وَثُلُثُ شَرَابٍ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ رواه أحمد والترمذي وصححه الألباني

“Sahabat Al Miqdan bin Ma’dykareb Al Kindi mengisahkan: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah seorang anak Adam memenuhi suatu kantung yang lebih buruk dibanding perutnya. Bila tidak ada pilihan, maka cukuplah baginya sepertiga dari perutnya untuk makanan, sepertiga lainnya untuk minuman dan sepertiga lainnya untuk nafasnya.” (Riwayat Ahmad, At Tirmizy, An Nasai dan oleh Al Albani dinyatakan sebagai hadits shahih.) Dalam menjelaskan hadits tersebut Ibnul Qayyim berkata :“Ketahuilah bahwa makan itu ada tiga tingkatan: Kebutuhan, Kecukupan dan Kelebihan”. Hal ini menegaskan bahwa seharusnya di Ramadhan posisi menahan diri harus di implementasikan dalam hal menjaga konsumi bukan sebaliknya. Selain itu, Hadits tersebut mengindikasikan bahwa perut adalah simbol kendali diri. Mengisi perut secara berlebihan bukan sekadar persoalan fisik, tetapi cermin kegagalan spiritual dalam menahan hawa nafsu.

Realitas Sosial Ramadhan: Konsumsi yang Meningkat

Secara empiris, Ramadhan justru menjadi periode lonjakan konsumsi rumah tangga. Fenomena “war takjil” (memburu takjil) di berbagai kota mencerminkan antusiasme konsumsi yang sering berlebihan. Aneka makanan dibeli bukan karena kebutuhan, melainkan dorongan selera sesaat.

Di sisi lain, food waste (membuang makanan) meningkat. Makanan berbuka sering tersisa dan terbuang. Diskon besar-besaran serta budaya belanja online semakin memicu perilaku impulsif. Ramadhan berubah menjadi “peak season” (perdagangan musiman), bukan semata-mata musim peningkatan spiritualitas.

Paradoks puasa dan konsumerisme dapat dianalisis dalam beberapa dimensi:

  1. Perpindahan Waktu, Bukan Pengurangan Konsumsi
    Puasa menahan makan siang, tetapi konsumsi dipindahkan dan bahkan dilipatgandakan saat berbuka.
  2. Simbol Spiritual vs. Realitas Material
    Secara simbolik, puasa mengajarkan asketisme. Namun dalam praktik sosial, ia berkelindan dengan budaya pasar.
  3. Empati Sosial vs. Euforia Pribadi
    Tujuan puasa adalah merasakan penderitaan fakir miskin. Namun euforia kuliner dan belanja sering menumpulkan empati tersebut.
  4. Spiritualitas Individual vs. Sistem Ekonomi Konsumtif
    Individu diajak menahan diri, sementara sistem ekonomi modern justru mendorong konsumsi tanpa henti

Dengan demikian, paradoks ini bukan hanya persoalan moral individu, tetapi juga benturan antara nilai spiritual dan arus kapitalisme konsumsi. Memang secara psikologis, rasa lapar yang ekstrem sering kali memicu mekanisme pertahanan otak untuk mencari “hadiah” (reward) berupa belanja dan makanan enak. Industri memanfaatkan celah ini dengan membungkus konsumerisme dalam kemasan religius.

Solusi: Mengembalikan Marwah Puasa
Untuk memecahkan paradoks ini, diperlukan langkah konkret secara personal maupun kolektif:

  1. Re-orientasi Niat: Menyadari bahwa esensi puasa adalah shiyam (menahan), bukan sekadar memindahkan jam makan.
  2. Penerapan “Frugal Living” Islami: Mengikuti prinsip QS. Al-Furqan: 67 dengan mengambil jalan tengah. Membuat daftar belanja kebutuhan primer dan disiplin terhadap daftar tersebut.
  3. Filantropi dari pada Konsumsi: Mengalihkan anggaran “balas dendam” makan malam untuk sedekah. Jika kita memiliki kelebihan dana, idealnya dialokasikan untuk memberi makan mereka yang kekurangan, bukan menambah variasi menu di meja sendiri.
  4. Kesadaran Ekologis: Menghindari food waste dengan prinsip “ambil secukupnya, habiskan sepenuhnya”.

Simpulnya, puasa adalah revolusi sunyi melawan hawa nafsu. Ia membebaskan manusia dari dominasi perut dan hasrat konsumsi. Namun tanpa kesadaran, puasa dapat tereduksi menjadi ritual tahunan yang paradoksal: menahan lapar di siang hari, tetapi merayakan kelimpahan di malam hari.

Ramadhan sejatinya bukan bulan konsumsi, melainkan bulan transformasi. Jika puasa berhasil menundukkan nafsu, maka ia melahirkan manusia bertakwa yang makan secukupnya, membelanjakan hartanya secara proporsional, dan mengutamakan keberkahan daripada kemewahan.

Wallahu a’lam

By admin