Keberkahan Sahur dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah

Oleh: Ichwan Muttaqin

Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling mulia dalam kalender hijriyah. Ia bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi bulan pendidikan ruhani, penguatan iman, dan pelipatgandaan keberkahan dalam seluruh aspek kehidupan. Banyak ibadah yang disunahkan dalan Ramadhan ini salah satunya adalah Ibadah sahur.

Sahur merupakan salah satu syiar penting dalam ibadah puasa Ramadhan. Ia bukan sekadar aktivitas makan sebelum fajar, melainkan ibadah yang mengandung keberkahan (barakah) dan nilai spiritual yang mendalam. Dalam ajaran Islam, sahur memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ.

Allah SWT berfirman:

“Dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam…”(QS. Al-Baqarah: 187)

Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, salah satu professor fakultas al-Qur’an di Universitas Islam Madinah dalam Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah menjelaskan ayat di atas bahwa dibolehkan pula bagi kalian makan dan minum sampai terbitnya fajar, yaitu ketika mulai tampak cahaya di ufuk dan mulai jelas perbedaannya dengan gelapnya malam; ketika itu mulailah berpuasa dan meninggalkan makan, minum, dan berjima’ sampai terbenamnya matahari.

Sementara itu dalam sudut pandang asbabunnuzul (sebab turun nya Al Quran) dijelaskan oleh Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, seorang Imam Masjidil Haram dalam tafsir Al-Mukhtassar bahwasannya Pada awalnya, orang yang tidur pada malam puasa (Ramadan) kemudian bangun sebelum fajar, dia dilarang makan atau mendekati istrinya. Kemudian larangan ini dihapus, dan Allah memperbolehkan bagi kalian -wahai orang-orang mukmin- menggauli istri-istri kalian pada malam-malam hari puasa (Ramadan).

Begitu pentingnya makan di waktu sahur sehingga Allah SWT sematkan Ibadah ini dalam Al Quran. Dalam pendakatan dalil yang lain Rasulah SAW bersabda:

“Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini secara tegas menyebutkan adanya keberkahan dalam sahur. Keberkahan tersebut mencakup keberkahan fisik, spiritual, dan sosial.

Keberkahan fisik memberikan signal bahwa dengan sahur sirkulasi asupan makanan dan minuman tetap terjaga dan terkontrol sehingga akan berefek kepada kesehata jasmina. Sementara keberkahan spiritual adalah membiasakan mengawali hari dengan menghidupkan waktu sahur, waktu yang didambakan oleh orang-orang sholeh dan waktu yang tepat bertaqorub (mendekat) kepada Allah SWT. Dan terakhir adalah keberkahan sosial bahwasannya Sahur akan menjadi pembeda antara puasa nya seorang muslim dan diluar agama kita. Rasulullah Bersabda mengenai hal ini lewat Hadits yg di riwayatkan oleh Imam Muslim:

“Perbedaan antara puasa kita dengan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.”(HR. Muslim)

Hadits dengan tegas menunjukkan bahwa sahur juga merupakan identitas dan syiar umat Islam, sekaligus bentuk ittiba’ (mengikuti) sunnah Rasulullah.

wallahu a’lam.

By admin